Menyenangkan Hati Orang Tua

papa mama

“Kalau mau menyenangkan hati orang tua itu, dilakukan saat masih hidup… Bukan setelah mereka meninggal.”

Salahsatu kata2 alm Papa saya yg saya ingat, waktu itu (kira2 saya usia SMP) lagi ada ‘dispute’ ttg meng-keramik-kan makam kakek+nenek. Papa dan salahsatu kakaknya ga setuju krn dilarang agama, tapi beberapa kakak-adik ngotot dgn alasan ‘nanti dianggap orang kita ga sayang sama orgtua…’
Dan keluarlah kata2 itu saat diskusi :-)

Setelah Papa ga ada, saya jadi makin sadar, banyak hal yang sebetulnya Papa (secara ga langsung) minta dan butuh, tapi dgn alasan ba-bi-bu saya ga mementingkannya… Kadang se-simpel main+menginap (krn dulu kami ga serumah) saya masih suka ogah2an atau nanti2…

Bahkan pd hari papa meninggal, sebetulnya saya niat mau main+nginap, tapi mikirnya ‘ah nanti sore aja mau ke mall dulu ketemu kawan’. Bayangan saya, papa saya memang sehat wal afiat walo ada penyakit di otak, tp secara fisik selalu baik2 saja. Dan saat di mall dpt telp dari Mama tiba2 memberitahu papa meninggal tiba2, rasanya seperti langit tiba2 runtuh menimpa saya. Penyesalannya sampai skrg tdk pernah bisa saya hilangkan :'(

Sekarang saya berusaha sekeras2nya, jgn sampai saya menyesal karena tidak menomorsatukan Mama… Mau dibilang ‘numpang idup’ kek, mau dibilang ‘manja ga mau pisah rumah’ kek, yang penting Mama di dlm batas pandangan.

KEGAGALAN memberikan kita pelajaran, tapi PENYESALAN akan selalu menghantui seumur hidup.

Yuk temen2 yang masih punya orangtua lengkap, pentingkan keperluan orangtua, perhatikan kebutuhan2nya dan fokus utk memenuhinya. Kadang mereka ga MINTA sama kita, tapi bukan berarti ngga butuh. Kita yang mesti JELI melihatnya.

Jangan kita bersembunyi di balik kata2 “orangtua senang kalau anaknya bahagia”, itu memang benar…

Tapi apa sebagai anak kita tau apa yang sebetulnya membuat mereka senang?

Karena mereka juga MANUSIA, mereka juga individu, seperti kita, yang kadang punya impian, punya keinginan-keinginan, yang terpaksa harus dipendam dalam2, karena sepanjang hidupnya mereka mengutamakan kita, anak2 mereka. Memendam keinginannya, kesenangannya, karena fokus finansialnya utk kebutuhan kita, utk kesehatan kita, utk pendidikan kita… Bahkan biaya nikah kita pun, mereka yang mengumpulkan tabungan mereka (dan mungkin menghabiskannya). Iya, mereka bahagia. Tapi apa cuma itu kebahagiaannya? Berkaca sama diri kita, apa cuma segini aja yang kita mau dalam hidup kita?
Kalau kita masih punya impian ini-itu, masih punya keinginan ini-itu, masih punya harapan ini-itu, mereka juga sama. Jangan abaikan ‘hal2 yang tidak terucap’ dari kedua orangtua kita. Hanya karena tidak terucap, belum tentu berarti TIDAK ADA.

Ayo, fokus senangkan hati orangtua. Kita masih cukup muda, yang mungkin saat ini punya tanggungjawab baru (pada keluarga inti dan anak2), tapi kita hidup di jaman yang sudah jauh lebih maju dan canggih dibanding jaman mereka.

Peluang meningkatkan income bagi kita sudah sangat terbuka, yang memungkinkan kita berusaha jauh lebih keras, untuk dapat menyenangkan semuanya : keluarga juga, orangtua juga.

BISA kok, kalau kita mau memaksakan diri, menunda sebentar kesenangan-kesenangan pribadi, untuk kesenangan orang2 yang kita cinta :-)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *