Memilih Core Team

memilih core team2

Ini sering masuk pertanyaan dan semalam pun saya bahas dgn core team saya…

Bagaimana cara saya memilih CORE TEAM?

Jawab :

Awalannya, pasti saya lakukan dulu IDENTIFIKASI downline. Tau kan yaa, yang masuk 3 kategori itu lho…

Setelah itu, bagi yang terindentifikasi calon core-team, biasanya saya berikan tugas-tugas sederhana. Dan kadang, tugas-tugas itu tidak harus dalam bentuk TUGAS, alias kadang yang bersangkutan ngga sadar kalau dia sedang diberi tugas/tes :-) dari situ bisa keliatan, mana yang sungguh-sungguh mau jalani bisnis ini, mana yang ngga.

Saya memilih core team bukan karena KEPINTARAN-nya, bukan karena KEMAMPUAN MODAL-nya, bukan karena BP PRIBADI-nya, bukan karena dia TEMAN saya.

Yang paling utama dalam memilih core team adalah KEMUDAHAN DIAJAK BEKERJA SAMA.

Kemudahan diajak bekerja sama bisa diterjemahkan dalam beberapa poin berikut :
1) Orangnya gampang dihubungi/dikontak. Kalau dihubungi, respondnya cepat. Syukur2 kalau bisa diajak ketemuan.
2) NURUT, manut, karena dia percaya sama saya bahwa saya adalah leadernya yg tidak akan membawa dia ke dalam ‘kerugian’
3) TIDAK NGEYEL, dan bukan orang yang hobi MENGELUH. Karena tiap kita punya masalah masing2, maka saya sangat tidak sanggup berinteraksi dgn orang yang hobi mengeluh. Energinya negatif sekali, sementara di bisnis ini saya butuh konsentrasi, dan karena itu butuh energi2 yang positif.
4) MAU BELAJAR dan tidak takut mencoba hal-hal baru, yang mungkin belum pernah dia lakukan sebelumnya.

Jadi, di syarat core team bagi saya, tidak ada tuh yang namanya :

– Core team mia DUITNYA MESTI BANYAK! « Kesimpulan yang sotoy, karena saya punya coreteam-coreteam yang tidak beriklan tapi alhamdulillah nyampe director dan akan terus growing, bahkan core team saya sekarang juga sedang belajar mengerjakan bisnis ini tanpa iklan (berbayar) :-)

– Core team mia MESTI TEMEN sendiri! « Ini juga sotoy, karena core team saya pun ada yg tadinya ngga kenal sama sekali. Kalau kemudian banyak teman/sahabat yang “JADI” di jaringan saya, itu semata-mata dari sisi ‘kemudahan diajak bekerjasama’. Karena mereka manut, percaya, mau belajar, ngga ngeluh dan mudah dihubungi/diajak diskusi :) dan dari semua teman yang pernah saya ajak bergabung di bisnis ini, toh tidak semuanya jadi core team :-)

Saya rasa, kuranglebih hal ini sama dengan pendapat banyak leader lain.

Jadi, teman-teman… jangan mudah berasumsi pada siapapun leader Anda, nanti berujung pada su’udzon :)

yang lebih bahaya adalah : sudah berasumsi, su’udzon, lalu memberitakan asumsinya pada orang lain, yang berujung ghibah, atau malah fitnah :)

GO EXECUTIVE!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *