Inspirasi Sabun Colek : Mengubah Nasib adalah HAK!

Duo Sabun Colek

Duo Sabun Colek

 

Sebelum membaca tulisan ini, kita harus tanggalkan dulu segala penghakiman dan prasangka ya… supaya setiap energi dan pesan yang dipancarkan oleh kisah mereka berdua bisa masuk ke diri kita sebagai energi positif untuk kita jalani hari-hari kita :-)

Ini gara-gara tadi saat makan siang, saya duduk di depan televisi yang ternyata disetel di channel sebuah infotainment 😀

Tadi tetiba si infotainment memuat tentang liputan ke kediaman duo pedangdut “SABUN COLEK”.

I know… I know… saya pun mengernyitkan wajah dengernya… heee, serius itu nama groupnya Sabun Colek?

Tapi lalu saya tersepona sama cantik-cantiknya… masya Allah, mahluk Tuhan bagus-bagus bangetttt yaaa… bening-bening dan betul-betul terawatttt… *nengok kaca liat muke sendiri*

Lalu diliputlah kegiatan mereka… yang satu (Kiki) lagi sibuk mencuci baju dengan tangan (ala-ala ngosrek di ember bulet gitu lah) sambil diketawain yang satunya lagi (Dina)… alasannya mesin cuci mereka rusak karena gak tau cara pakainya hehehe… *toss Jengs, saya pun gak tau cara pake mesincuci saya*

Trus narator bercerita bahwa duo Sabun Colek ini adalah mantan TKI di Hongkong. Yang satu bekerja sebagai PRT, dan yang satunya lagi sebagai Baby Sitter. Saya pun makin tertarik mendengarkan kisah mereka dan langsung pasang konsentrasi penuh!

Dalam satu segmen mereka bercerita asal muasal mereka bisa jadi TKI…

Dina bilang bercerita tentang duka-nya sebagai TKI. Jauh dari orang tua dan keluarga, itu sudah pasti… Tapi keputusan itu harus dia ambil karena :

  • Ayahnya adalah seorang BURUH TANI (menggarap sawah orang, biasanya dibayar dengan bagihasil beras yang bisa dijual saat panen)
  • Ibunya sakit-sakitan (duh…)
  • Adiknya harus dibiayai sekolah

Cita-cita Dina itu sederhana banget : membelikan SAWAH untuk ayahnya supaya gak mesti memburuh ke orang lain, menyiapkan biaya berobat ibunya, dan menyekolahkan adiknya HARUS sampai SARJANA.

Cerita Kiki tidak kalah nelangsa. Kiki mengambil keputusan menjadi TKI, karena keluarganya diusir dari rumah KONTRAKAN oleh pemiliknya… Kiki rela banting tulang supaya keluarganya gak terlunta-lunta, dan penghasilan awalnya sekitar Rp. 5juta rupiah dia pakai utk membeli rumah bekas yang hancur karena gempa, dan pelan-pelan dari penghasilannya berhasil membangun rumah. Kata Kiki : alhamdulillah udah LUNAS gak nyicil lagi :-)

Keduanya berjuang atas nama orangtua, dan keluarga :-)

———————————————————————————————————-

Teman-teman, selalu ada hal yang menggelitik saat saya membaca tulisan teman di FB yang bilang : nasib itu sudah ditentukan sama Allah SWT, jalani aja apa adanya… 

boleh ya kalau saya tidak setuju? :-)

Apa yang Kiki dan Dina lakukan, dengan “mengorbankan diri” menjadi TKI ke luar negeri adalah upaya mereka untuk memutus rantai nasib yang sudah tergariskan pada orangtua dan mungkin tetua-tetua-tetuanya lagi.

Mereka MENOLAK MENJALANI HIDUP APA ADANYA.

Mengambil jalan nekad dan ekstrem untuk menjadi TKI dengan segala konsekuensinya : konsekuensi ter”manis” adalah jauh dari keluarga; konsekuensi ter”pahit” adalah penyiksaan dan bahkan kematian, demi perbaikan hidup keluarganya.

Dan bahwa kemudian mereka menjadi penyanyi profesional, apa tiba-tiba karena mereka dihampiri orang lalu ditawari “hei kamu, mau jadi artis?”

Yang kita lihat sekarang adalah HASIL : cantiknya… glamournya… banyak uangnya…

Tapi PASTI banyak perjuangan di belakangnya : menghabiskan ribuan jam untuk latihan, mencari-cari celah untuk bisa mendapatkan produser dan management yang mau mengusung mereka, pastinya juga banyak mendapatkan penolakan (dan saya percaya : penghinaan dan mungkin pelecehan), tapi mereka terus mencari dan mencari dan mencari sampai bisa seperti sekarang.

Setelah masuk management pun, mereka ternyata harus mengalami penggemblengan lagi : Olah Vokal, belajar Koreografi, belajar tentang Fashion/grooming untuk menjadi bintang. (sumber : Viva.co.id)

Bayangkan kalau mereka memilih “pasrah pada nasib yang diberikan”, mungkin selama-lamanya jadi asisten rumah tangga, jadi TKI? Atau jadi anak buruh tani yang mungkin nasibnya gak jauh-jauh jadi buruh juga?

Mereka percaya bahwa mengubah nasib adalah HAK yang boleh mereka pakai, boleh mereka ambil dan perjuangkan. Dan mereka pasti berjuang gila-gilaan untuk hidup mereka.

Percayalah, kita semua juga punya HAK yang sama. Hak untuk mengubah nasib, hak untuk memperbaiki kualitas hidup, hak untuk menjadi KAYA :-)

Jangan biarkan orang lain mengambil HAK ini dari kita dengan cara apapun, dan jangan biarkan DIRI KITA pun merampas HAK ini dari kita sendiri dengan sibuk memikirkan SEGALA KETERBATASAN kita sendiri.

Karena ALLAH SWT telah memberikan hak tersebut kepada kita :

“SESUNGGUHNYA ALLAH TIDAK AKAN MENGUBAH NASIB SUATU KAUM KECUALI KAUM ITU SENDIRI YANG MENGUBAH APA APA YANG PADA DIRI MEREKA ” QS 13:11

Kenapa kita harus menolaknya dengan cara menjalani apa adanya?

Teman-teman… Hidup hanya satu kali. Hiduplah dengan DAHSYAT. (Tung Desem Waringin)

Saya harus mengakui saya menghormati, menghargai dan bahkan kagum sama pilihan hidup yang mereka ambil :-)

 

Happy Women’s Day!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *